Dyno Test

Dyno Test

Di Publikasikan Oleh : abmadmin | Dibaca : 23145 X | Tanggal : 19 Oktober 2017

Beberapa bengkel menggunakan dynamometer untuk menganalisa kerusakan dan sejauh mana mereka dapat memperbaiki kerusakan tersebut. Selain itu mereka juga biasanya menjual suku cadang after market untuk mendongkrak tenaga kendaraan, kenaikan tenaga kendaraan setelah ditangani workshop/bengkel lalu di uji dengan dynamometer sehingga kepuasan pelanggan bengkel terjaga dengan data yang pasti dan akurat.

Workshop/bengkel yang menerima permintaan pembuatan motor/mobil balap memerlukan dynamometer untuk menguji hasil kerja mereka, tentunya dengan riset yang mereka lakukan sebelumnya.

Selain itu uji dyno test dapat menghindari kecelakaan fatal akibat mencoba kendaraan secara on the road untuk mengetahui performa.

DEFINISI
Dalam konteks automotif, Dynamometer atau dyno adalah alat ukur untuk mengetahui kekuatan yang dihasilkan oleh mesin sepeda motor atau mobil, dengan hasil yang dikeluarkan berupa torsi per RPM. Selanjutnya dapat dikembangkan menjadi output power per rpm. juga dapat diketahui kecepatan maksimum (mis: km/jam), waktu tempuh (mis: detik), akselerasi (mis: m/detik²), jarak (mis: meter).

RUNNING DYNO TEST
Pertama dalam melakukan running dyno test adalah meletakan kendaraan (sepeda motor atau mobil) pada chassis dynamometer dan melakukan pemanasan run layaknya dijalan sesungguhnya dengan memasukan berbagai kecepatan gear (gigi). Setelah mesin mencapai suhu ideal, posisikan gigi pada top gear (gigi tertinggi) agar dapat mengetahui power sekaligus kecepatan maksimum (kecepatan maksimum selalu didapatkan pada posisi top gear). Lakukan run record pada rpm terendah sampai rpm tertinggi yang dapat dicapai dengan cara membuka gas penuh. Setelah dicapai rpm maksimum, tutup gas dan turunkan gigi secara bertahap hingga posisi netral. Grafik pada monitor saat itu juga sudah ditampilkan. Dan dapat diolah dan diprint sesuai keinginan. Running dyno test tidak hanya dilakukan pada posisi top gear, running dyno test dapat membaca pada setiap gigi selain netral.

Untuk mendapatkan hasil data dengan ketepatan yang tinggi, lakukan running berulang tanpa jeda (Tanpa engine off) sebanyak min 3 kali run dan mak 5 kali run, selanjutnya ambil rata-rata hasil tersebut

HAL YANG MEMPENGARUHI BENTUK GRAFIK

Naik turunnya grafik dari awal sampai akhir dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain:

- Waktu pengapian (ignition) di setiap Rpm
- Suplai campuran bahan bakar (AFR/Rpm) di setiap Rpm
- Flow/aliran bahan bakar dari intake hingga exhaust sampai ujung muffler/knalpot.
- Siklus chamshaft
- Suhu mesin (menentukan clearance sistem didalam mesin dan kekentalan pelumas)
- Parameter mesin lainya seperti
- Kapasitas mesin (Volume/cc Mesin)
- Jenis bahan bakar
- Perbandingan kompresi baik secara dinamis maupun statis
- Perbandingan bore terhadap stroke
- Berat crankshaft/inersia crankshaft
- Gearbox ratio
- Etc
- Lingkungan
- Suhu udara
- Kelembaban udara
- Kandungan oksigen

FUNGSI
Grafik hasil running dyno test menampilkan parameter X (horizontal) dan Y (Vertikal). Parameter X dapat diisi dengan satuan seperti Rpm, meter, detik dll. Parameter Y dapat diisi dengan satuan seperti: power, torsi, kecepatan dll.

Contoh penerapan fungsi grafik antara lain:

Torsi terhadap RPM: ditampilkan gambar grafik perubahan torsi pada setiap rpm, dapat dilihat torsi maksimum diperoleh pada rpm tertentu, setelah mencapai torsi maksimum biasanya grafik cenderung menurun lagi sesuai dengan karakter mesin yang diuji.

- Power terhadap RPM: ditampilkan gambar grafik perubahan power pada setiap rpm, dapat dilihat power maksimum diperoleh pada rpm tertentu, setelah mencapai power maksimum biasanya grafik cenderung menurun lagi sesuai dengan karakter mesin yang diuji atau tetap naik dan dihentikan oleh rpm limiter pada kotak pengapian mesin (CDI, TCI, ECU)
- Kecepatan terhadap rpm: fungsi ini dapat mengetahui kecepatan maksimum.
- Jarak terhadap waktu: fungsi ini dapat mengetahui akselerasi untuk disesuaikan dengan kondisi lintasan (Trek drag race, Sirkuit, dan sebagainya)
- Masih banyak fungsi yang dapat ditampilkan oleh monitor yang terhubung dengan chassis dynamometer tergantung dari software chassis dynamometer tersebut. Bahkan beberapa software menambahkan fitur untuk mengetahui AFR ( Air Fuel Ratio) yang berhubungan dengan campuran ideal bahan bakar maupun emisi gas buang.

PEMBACAAN GRAFIK
Grafik dyno test terdiri dari beberapa jenis seperti:

- Grafik pengujian tunggal
Gambar grafik pengujian tunggal terdiri dari satu grafik, hasil dari beberapa kali running yang diambil rata-rata. Dari hasil tersebut dapat dilihat kenaikan Y terhadap X, dan peak point. Peak point adalah nilai Y tertinggi yang berada di X tertentu misalnya power maksimum sebesar 120 PS pada 11000 RPM (X=RPM, Y=power(PS)). Dalam grafik ini juga dapat dilihat X maksimum menghasilkan Y tertentu (RPM tertinggi yang dicapai menghasilkan power tertentu setelah melewati peak point). Bentuk grafik merupakan karakter asli dari mesin yang diuji.

Dari grafik pengujian tunggal ini dapat dilihat banyak hal seperti:
- Peak power/Power maksimum
- Peak torsi/Torsi maksimum
- Rpm maksimum
- Top speed/Kecepatan maksimum
- Akselerasi maksimum
- Jarak tempuh
- Waktu tempuh
- Limiter point
- Best Performance Range (area kerja mesin dalam menghasilkan performa terbaik, satuan dalam Rpm, misalkan BPR terbaik suatu mesin adalah 7500-12500 Rpm, biasanya titik tertinggi BPR adalah Peak point, setelah melewati peak point performa mesin cenderung menurun, etc
- Grafik Komparasi
Grafik komparasi merupakan gabungan beberapa grafik hasil dyno test dari dua hal yang berbeda, entah set up atau tipe kendaraan yang berbeda. Tujuan dari komparasi ini adalah untuk membandingkan atau melihat perbedaan antara dua grafik atau lebih. Setelah melihat perbedaan grafik ini tunner dapat mengambil kesimpulan untuk melakukan hal yang dianggap perlu.
Contoh:
- Dua buah chamshaft A dan B dikomparasikan oleh dynamometer pada kendaraan yang sama dengan hasil komparasi:
chamshaft A memiliki Rpm peak point lebih rendah dari B, kesimpulan Chamshaft A memiliki akselerasi yang baik dibanding B dan digunakan di lintasan pendek atau corner tajam, chamshaft B lebih cocok untuk high speed dan rolling corner.
- Dua buah tipe kendaraan A dan B dikomparasikan akan terlihat kelebihan, kekurangan dan karakter masing-masing. Berdampak terhadap cara mengendarai kendaraan tersebut.

SATUAN
Hasil pengukuran menggunakan dynamometer menghasilkan beberapa satuan yaitu:

Tenaga/Power :
- HP (Horse Power), DK (Daya Kuda (Indonesia))
1 HP adalah daya sebesar 735.5 watt diukur secara metrik
- PS (Pferderstaerke) jerman
1 PS adalah daya sebesar 745.7 watt diukur secara mekanik
- kW (kiloWatt)
1 kW = 1.341 HP
1 kW = 1.360 PS
1 PS = 0.9863 HP
1 HP = 1.0138 PS
- Ada sedikit perbedaan nilai antara PS dan HP, beberapa enginer menganggap nilai kecil tersebut sebagai toleransi sehingga dapat diartikan bahwa PS dan HP dianggap sama, walaupun sebenarnya berbeda.

Torsi/Momen:
- Nm (Newton meter) = 0.1020 kgf.m
- 1 kgf.m = 9.8 Nm

Putaran:
- Rpm (Revolusi per menit)

Kecepatan/Velocity:
- Km/h (Kilometer per jam)
- Mph (Mile per detik) US

Waktu:
- s (Detik), (d) Indonesia

Jarak:
- m (meter)

Akselerasi:
- m/s²

Partner Kami